kewajiban lancar adalah kewajiban yang diperkirakan akan dibayar dengan menggunakan aktiva lancar atau menciptakan kewajiban lancar lainnya dan harus segera dilunasi dalam jangka waktu satu tahun. Yang termasuk dalam kategori kewajiban lancar adalah utang usaha, pendapatan diterima di muka, utang pajak penghasilan karyawan, utang bunga, utang upah, utang pajak penjualan, dan kewajiban jangka panjang yang akan segera jatuh tempo dalam jangka waktu satu tahun.
Utang usaha (accounts payable) timbul pada saat barang atau jasa diterima sebelum melakukan pembayaran. Dalam transaksi perusahaan dagang, seringkali perusahaan membeli barang dagangan secara kredit dari pemasok untuk dijual kembali barang dagangan secara kredit dari pemasok untuk dijual kembali kepada para pelanggannya. Dalam hal ini, perusahaan akan mencatat pembelian barang dagangan tersebut dalam pembukuan dengan cara mendebet akun pembelian (jika sistem persediaan periodik) atau akun persediaan barang dagangan (jika sistem persediaan perpetual) dan mengkredit akun utang usaha.
Utang usaha ini biasanya akan segera dilunasi oleh perusahaan dalam jangka waktu yang sangat sesuai dilunasi oleh perusahaan dalam jangka waktu yang sangat singkat sesuai dengan persyaratan kredit (credit tern) yang tertera dalam faktur tagihan (invoice). Pada waktu utang usaha jatuh tempo dan dilunasi, akun utang usaha akan didebet dan akun kas akan dikredit. Untuk pembayaran yang dilakukan dalam periode diskon, akun potongan pembelian (jika sistem persediaan periodek) atau akun persediaan barang dagangan (jika sistem persediaan perpetual) juga akan dikredit dalam jurnal sebesar potongan yang diterima.
Sedangkan pendapatan diterima di muka (unearned revenue) timbul pada saat pembayaran diterima sebelum barang atau jasa diberikan. Contohnya adalah sewa diterima di muka (unearned rent), di mana pihak yang menyewakan biasanya akan menerima terlebih dahulu uang muka dari pihak penyewa untuk pemakaian sewa beberapa bulan ke depan. Uang yang diterima di muka ini, bagi pihak yang menyewakan (yang menerima uang muka) adalah merupakan utang, karena uang telah diterima atas periode sewa yang belum berjalan.
Pihak yang menyewakan akan mencatat penerimaan uang muka tersebut dalam pembukuan dengan cara mendebet akun kas dan mengkredit akun sewa diterima di muka. Utang secara berangsur-angsur akan berkurang secara proporsional dari bulan ke bulan sepanjang pemakaian sewa yang telah terjadi. Setiap bulannya, begitu sewa telah "dinikmati" oleh penyewa, maka bagi pihak yang menyewakan (yang menerima uang muka tadi), utangnya akan berubah menjadi pendapatan sewa secara bertahap. Jurnal akan dibuat dengan cara mendebet akun sewa diterima di muka dan mengkredit akun pendapatan sewa, yaitu sebesar sewa yang telah "dinikmati" oleh penyewa secara proporsional.
Utang pajak penghasilan karyawan (employees income taxes payable) merupakan jumlah pajak yang terutang kepada pemerintah atas besarnya gaji karyawan yang terkena pajak penghasilan. Pemberi kerja selaku wajib pungut (wapu) berkewajiban untuk memotong dan memungut pajak atas gaji karyawan yang melebihi jumlah penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Pada waktu gaji karyawan dibayarkan, kewajiban pajak akan dicatat dalam pembukuan perusahaan dengan cara mendebet akun beban gaji dan mengkredit akun kas dan akun utang pajak penghasilan karyawan.
Akun beban gaji di debet dalam jurnal sebesar jumlah gaji bruto (gaji pokok ditambah dengan seluruh tunjangan yang ada dan sebelum dikurangi dengan seluruh tunjangan yang ada dan sebelum dikurangi dengan potongan-potongan). Utang pajak penghasilan karyawan ini harus segera dibayar atau disetorkan ke kas negara melalui bank persepsi (bank yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menampung sementara pemasukan kas negara berupa pajak) atau melalui kantor pos, selambat-lambatnya tanggal 10 di bulan berikutnya setelah gaji dibayarkan.
Utang pajak penghasilan karyawan yang disetorkan ke kas negara akan dicatat dalam pembukuan perusahaan dengan cara mendebet akun kas. Akuntansi untuk pajak penghasilan perusahaan (corporate income taxes payable) akan dibahas nanti secara khusus dalam buku akuntansi lanjutannya.
Utang bunga (interest payable) merupakan jumlah bunga yang terutang kepada kreditor atas dana yang dipinjam. Dalam hal ini, debitur telah menikmati dana kreditor selama periode berjalan namun baru akan dibayarkan di periode akuntansi berikutnya sesuai dengan tanggal jatuh tempo pinjaman. Bunga ini terutang karena adanya perbedaan antara tanggal pembayaran dengan tanggal tutup buku perusahaan, di mana pemanfaatan atas dana kreditor dalam periode berjalan baru akan dibayarkan di periode akuntansi berikutnya setelah pembukuan perode berjalan ditutup.
Pada akhir periode berjalan tersebut, debitur akan membuat ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat besarnya bunga berjalan (bunga yang masih harus dibayar atau bunga terutang) atas saldo pinjaman yang belum dilunasi. Atas dasar akrual (accrual basic), jurnal penyesuaian akan dibuat dalam pembukuan debitur dengan cara mendebet akun beban bunga dan mengkredit akun utang bunga. Utang bunga ini akan segera dibayar dalam jangka waktu beberapa bulan ditahun mendatang (perode akuntansi berikutnya).
Utang upah (wages payable) merupakan jumlah upah yang terutang kepada karyawan atas manfaat yang telah diterima perusahaan melalui pemakaian jasa karyawan selam periode berjalan. Dalam hal ini, perusahaan telah menikmati atau menggunakan jasa karyawan dalam periode berjalan namun baru akan dibayarkan di periode akuntansi berikutnya sesuai dengan tanggal pembayaran yang telah ditetapkan. Upah ini terutang karena adanya perbedaan antara tanggal pembayaran dengan tanggal tutup buku perusahaan, di mana pemakaian jasa karyawan dalam periode berjalan baru akan dibayarkan di periode akuntansi berikutnya setelah pembukuan periode berjalan ditutup.
Pada akhir periode berjalan tersebut, perusahaan (pemberi kerja) akan membuat ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat besarnya upah karyawan yang terutang yang telah dinikmati dalam periode berjalan. Atas dasar akrual, jurnal penyesuaian tersebut akan dibuat dengan cara mendebet akun beban upah dan mengkredit akun utang upah. Utang upah ini biasanya akan segera dibayar dalam jangka waktu beberapa hari di tahun mendatang (periode akuntansi berikutnya).
Utang pajak penjualan (sales taxes payable) merupakan utang atas pajak yang dipungut dari pembeli ketika penjualan terjadi. Seperti kita ketahui bahwa sebagian besar produk yang kita beli dari toko pengecer dikenakan pajak penjualan. Pajak penjualan ini dibebankan kepada pembeli sebesar persentase tertentu dari harga jual. Jadi, penjual akan memungut pajak dari pembeli ketika penjualan terjadi.
Nantinya secara berkala (biasanya bulanan), pajak ini akan disetorkan oleh penjual yang bersangkutan ke kas negara. Penjual akan mencatat besarnya penjualan harian dan pajak penjualan dengan cara mendebet akun kas dan mengkredit akun penjualan dan akun utang pajak penjualan. Sebagai contoh, jika besarnya penjualan harian adalah Rp. 5.000.000,- dan tarif pajak penjualan 10%, maka besarnya utang pajak penjualan adalah Rp. 500.000,-.
Dalam hal ini, uang kas yang akan diterima oleh penjual dari pembeli menjadi Rp. 5.500.000,- di mana Rp. 500.000,- nya dipungut untuk selanjutnya dibayarkan ke pemerintah. Ketika pajak penjualan tersebut disetor ke kas negara, penjual akan mencatatnya dalam pembukuan dengan cara mendebet akun utang pajak penjualan dan mengkredit akun kas, yaitu masing-masing sebesar Rp. 500.000,-.
Sebagai dari kewajiban jangka panjang yang sifatnya lancar (current portion of long term debt) adalah sebagian dari kewajiban jangka panjang yang akan segera jatuh tempo dalam jangka waktu maksimal satu tahun. Kewajiban ini tergolong sebagai kewajiban lancar. Sebagai contoh, asumsi bahwa pada tanggal 30 September 2008 perusahaan menerbitkan surat utang yang bernilai nominal Rp. 50.000.000,-.
Surat utang ini akan jatuh tempo secara bertahap dalam jangka waktu 5 tahun, masing-masing Rp. 10.000.000,- setiap tahunnya, yang terhitung mulai 30 September 2009. Ketika laporan keuangan disiapkan pada tanggal 31 Desember 2008, maka Rp. 10.000.000,- seharusnya dilaporkan sebagai kewajiban lancar, sedangkan sisanya sebesar Rp. 40.000.000,- akan dilaporkan sebagai kewajiban jangka panjang.
Perusahaan harus secara terus-menerus memantau hubungan antara besarnya kewajiban lancar dengan aktiva lancar. Hubungan ini sangat penting terutama untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Perusahaan yang memiliki lebih banyak kewajiban lancar dibanding aktiva lancar, maka biasanya perusahaan tersebut akan mengalami kesulitan likuiditas ketika kewajiban lancarnya jatuh tempo.
source : Pengantar akuntansi II || Hery, S.E., M.Si.
Utang bunga (interest payable) merupakan jumlah bunga yang terutang kepada kreditor atas dana yang dipinjam. Dalam hal ini, debitur telah menikmati dana kreditor selama periode berjalan namun baru akan dibayarkan di periode akuntansi berikutnya sesuai dengan tanggal jatuh tempo pinjaman. Bunga ini terutang karena adanya perbedaan antara tanggal pembayaran dengan tanggal tutup buku perusahaan, di mana pemanfaatan atas dana kreditor dalam periode berjalan baru akan dibayarkan di periode akuntansi berikutnya setelah pembukuan perode berjalan ditutup.
Pada akhir periode berjalan tersebut, debitur akan membuat ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat besarnya bunga berjalan (bunga yang masih harus dibayar atau bunga terutang) atas saldo pinjaman yang belum dilunasi. Atas dasar akrual (accrual basic), jurnal penyesuaian akan dibuat dalam pembukuan debitur dengan cara mendebet akun beban bunga dan mengkredit akun utang bunga. Utang bunga ini akan segera dibayar dalam jangka waktu beberapa bulan ditahun mendatang (perode akuntansi berikutnya).
Utang upah (wages payable) merupakan jumlah upah yang terutang kepada karyawan atas manfaat yang telah diterima perusahaan melalui pemakaian jasa karyawan selam periode berjalan. Dalam hal ini, perusahaan telah menikmati atau menggunakan jasa karyawan dalam periode berjalan namun baru akan dibayarkan di periode akuntansi berikutnya sesuai dengan tanggal pembayaran yang telah ditetapkan. Upah ini terutang karena adanya perbedaan antara tanggal pembayaran dengan tanggal tutup buku perusahaan, di mana pemakaian jasa karyawan dalam periode berjalan baru akan dibayarkan di periode akuntansi berikutnya setelah pembukuan periode berjalan ditutup.
Pada akhir periode berjalan tersebut, perusahaan (pemberi kerja) akan membuat ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat besarnya upah karyawan yang terutang yang telah dinikmati dalam periode berjalan. Atas dasar akrual, jurnal penyesuaian tersebut akan dibuat dengan cara mendebet akun beban upah dan mengkredit akun utang upah. Utang upah ini biasanya akan segera dibayar dalam jangka waktu beberapa hari di tahun mendatang (periode akuntansi berikutnya).
Utang pajak penjualan (sales taxes payable) merupakan utang atas pajak yang dipungut dari pembeli ketika penjualan terjadi. Seperti kita ketahui bahwa sebagian besar produk yang kita beli dari toko pengecer dikenakan pajak penjualan. Pajak penjualan ini dibebankan kepada pembeli sebesar persentase tertentu dari harga jual. Jadi, penjual akan memungut pajak dari pembeli ketika penjualan terjadi.
Nantinya secara berkala (biasanya bulanan), pajak ini akan disetorkan oleh penjual yang bersangkutan ke kas negara. Penjual akan mencatat besarnya penjualan harian dan pajak penjualan dengan cara mendebet akun kas dan mengkredit akun penjualan dan akun utang pajak penjualan. Sebagai contoh, jika besarnya penjualan harian adalah Rp. 5.000.000,- dan tarif pajak penjualan 10%, maka besarnya utang pajak penjualan adalah Rp. 500.000,-.
Dalam hal ini, uang kas yang akan diterima oleh penjual dari pembeli menjadi Rp. 5.500.000,- di mana Rp. 500.000,- nya dipungut untuk selanjutnya dibayarkan ke pemerintah. Ketika pajak penjualan tersebut disetor ke kas negara, penjual akan mencatatnya dalam pembukuan dengan cara mendebet akun utang pajak penjualan dan mengkredit akun kas, yaitu masing-masing sebesar Rp. 500.000,-.
Sebagai dari kewajiban jangka panjang yang sifatnya lancar (current portion of long term debt) adalah sebagian dari kewajiban jangka panjang yang akan segera jatuh tempo dalam jangka waktu maksimal satu tahun. Kewajiban ini tergolong sebagai kewajiban lancar. Sebagai contoh, asumsi bahwa pada tanggal 30 September 2008 perusahaan menerbitkan surat utang yang bernilai nominal Rp. 50.000.000,-.
Surat utang ini akan jatuh tempo secara bertahap dalam jangka waktu 5 tahun, masing-masing Rp. 10.000.000,- setiap tahunnya, yang terhitung mulai 30 September 2009. Ketika laporan keuangan disiapkan pada tanggal 31 Desember 2008, maka Rp. 10.000.000,- seharusnya dilaporkan sebagai kewajiban lancar, sedangkan sisanya sebesar Rp. 40.000.000,- akan dilaporkan sebagai kewajiban jangka panjang.
Perusahaan harus secara terus-menerus memantau hubungan antara besarnya kewajiban lancar dengan aktiva lancar. Hubungan ini sangat penting terutama untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Perusahaan yang memiliki lebih banyak kewajiban lancar dibanding aktiva lancar, maka biasanya perusahaan tersebut akan mengalami kesulitan likuiditas ketika kewajiban lancarnya jatuh tempo.
source : Pengantar akuntansi II || Hery, S.E., M.Si.